882 Mahasiswa Baru Ziarah ke Makam Pendiri UPDM (B)

DSC_2619Bandung, 11 Oktober 2014

882 mahasiswa baru Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) ziarah kemakam Mayjen (Purn). Prof. Dr. Moestopo di makam pahlawan cikutra bandung. Kegiatan ini merupakan tradisi yang diadakan secara terprogram oleh Rektor UPDM (B) setiap tahun. Setelah menerima mata kuliah pengantar (Matrikulasi) mahasiswa baru tahun ajaran 2014 – 2015 diisi dengan kunjungan kemakam pendiri UPDM (B) tersebut.

Kurang lebih 1 jam prosesi ziarah dilakukan dengan upacara militer, iringan korps music TNI Angkatan Darat, diakhiri dengan tabur bunga di pusara almarhum Mayjen (Purn). Prof. Dr. Moestopo oleh pimpinan dan seluruh mahasiswa.

Menurut Warek III bidang kemahasiswaan dan alumni Dr. Andriansyah, MSi, untuk lebih menyadari nilai-nilai perjuangan Prof. Dr. Moestopo, baik sebagai pahlawan nasional maupun sebagai pejuang pendidikan, mahasiswa baru selalu diperkenalkan ke Makam alhmarhum Mayjen (Purn). Prof. Dr. Moestopo.

DSC_4161 DSCI0583

Dalam kesempatan tersebut yang bertindak sebagai inspektur upacara mewakili Rektor adalah Warek III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, ikut mengahadiri acara pemakaman tersebut, Bapak Romualdus Kusumanto JM dan Ibu Maria Margaretha Kusnandari JM, SE serta dosen dari 4 Fakultas FKG, FE, FISIP, FIKOM dan para undangan lainnya.

Humas UPDM(B)

DIKLATSAR Ke 23 AGRAWITAKA

DSC_7276 DSC_7267 DSC_7275DSC_7272

Dalam rangka pelaksanaan program kerjanya, Pengurus Agrawitaka mengadakan penerimaan calon anggota baru melalui Diklatsar ke 23 yang dilantik pada hari Senin tanggal 13 Oktober 2014 bertempat diarea parkir kendaraan roda dua dan didepan wall climbing Agrawitaka.

Dari 31 calon anggota yang terdaftar, hadir pada pelantikan sebanyak 28 orang terdiri dari 10 mahasiswi dan 18 mahasiswa, dari FISIP sebanyak 13 orang dan FIKOM sebanyak 15 orang sedangkan dari FE dan FKG belum ada yang ikut bergabung untuk angkatan Diklatsar 23 Agrawitaka ini.

DSC_7278 DSC_7283 DSC_7282

Berdasarkan Rencana kalender Diklatsar ini dilakukan selama 3 bulan dimana awal pelatihan dilakukan 2 kali seminggu dengan materi latihan fisik terdiri dari jogging, SRT, dan Wall climbing dan materi kelas yang dilakukan pada hari sabtu dibulan November dan Desember.

Tanggal 21 sampai dengan 23 November dilakukan Simulasi lapangan sebagai praktek langsung dari teori-teori yang didapat dari para instruktur didalam kelas.

Sekembali dari simulasi lapangan latihan fisik ditingkatkan menjadi 3 kali seminggu yang bertujuan meningkatkan kesiapan calon anggota untuk melakukan Perjalanan Panjang yang direncanakan pada tanggal 27 Desember 2014 sampai dengan 3 Januari 2015 dan juga pendalaman materi di kelas.

Jika Calon anggota ini dinyatakan lulus maka mereka akan dilantik menjadi Anggota Muda yang diberikan kesempatan untuk melakukan masa bakti selama 2 bulan menjadi Anggota Penuh Agrawitaka dan mendapatkan Nomor Anggota serta kelengkapan lainnya.

DSC_7286 DSC_7288 DSC_7291

Selamat bergabung di Agrawitaka, semoga yang dilantik menjadi peserta Diklatsar dapat dilantik semuanya menjadi Anggota Penuh…….Jayalah Agrawitaka….

 

Besar Potensi Ekonomi Syariah Indonesia

Sabtu, 11 Okt 2014
Doc7
JAKARTA (Pos Sore) — Kita tidak perlu berkecil hati terhadap data statistik yang secara kuantitatif menyuguhkan posisi aset keuangan syariah Indonesia yang hanya pada peringkat 9 dunia. Berdasarkan Islamic Finance Country Index (IFCI), Indonesia berada pada urutan ke-5 setelah Iran, Malaysia, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab.

“Untuk potensi pasar, kita sangat potensial. Pangsa pasar perbankan syariah kita saat ini belum mencapai 5% dari pasar perbankan nasional. Padahal populasi muslim Indonesia, penyumbang terbesar populasi muslim dunia,” kata Mustafa Edwin Nasution, Ph.D, Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

Ia menegaskan hal itu usai memberikan keynote speech pada seminar ‘Ekonomi Syariah Indonesia Menghadapi MEA 2015′ yang diadakan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan IAEI Sabtu (11/10). Seminar ini juga menandai dibukanya Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah di kampus yang dipimpin Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si.

Menurutnya, tren industri keuangan syariah dari tahun ke tahun semakin meningkat. Bisa dilihat dari total aset, pembiayaan yang diberikan, dana pihak ketiga, maupun rasio-rasio keuangan yang semakin membaik.

“Ini berarti, tidak ada keraguan bagi kita untuk berperan aktif dalam pengembangan ekonomi syariah di tanah air tanpa membedakan keyakinan karena sejatinya prinsip ekonomi syariah adalah syariahnya agama-agama samawi yang sejak awal mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli, serta memerintahkan umatnya untuk berbisnias secara jujur dan amanah,” tandasnya.

Rektor Universitas Prof. Dr. Moestop (Beragama), Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si, menandaskan, pihaknya secara nyata telah menunjukkan komitmen untuk berperan dalam mewujudkan pengembangan SDM berbasis kompetensi di bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah maupun Syariah Islam itu sendiri.

Pihaknya menyambut baik upaya IAEI dan OJK yang pada 14 Oktober nanti akan menyelenggarakan Forum Koordinasi Pengembangan Kurikulum Ekonomi Syariah dengan mengandeng para pengambil kebijakan pendidikan tinggi.

“Mudah-mudahan segera terwujud suatu standarisasi kompetensi bagi pengembangan SDM Ekonomi dan Keuangan Syariah yang kompetitif mengingat gaung ekonomi syariah sedang mengumandang ke seanteri negeri,” tandasnya. (tety)

Moestopo Buka Pelatihan dan Prodi Syariah

Minggu, 12 Oktober 2014 , 19:33:00 WIB
Doc5
Laporan: Widya Victoria

RMOL. Perkembangan keuangan syariah secara kuantitatif menunjukkan peningkatan. Bahkan menurut Islamic Finance Country, Indonesia menempatkan urutan kelima setelah Iran.

“Pasar perbankan syariah dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN bisa menjadi ceruk yang besar bagi perbankan syariah,” kata Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Mustafa Edwin Nasution pada seminar nasional “Ekonomi Syariah Indonesia Menghadapi MEA 2015” di Kampus FKG Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Bintaro, Jakarta Selatan.

Mustafa mengatakan, perkembangan ekonomi syariah yang semakin meningkat di Indonesia harus dibarengi dengan penyiapan SDM di semua sektor ekonomi melalui pelatihan dalam jangka pendek seperti kursus dan training. Tentunya dilengkapi pula standar kompetensi profesi. Sehingga, ketika MEA 2015 diberlakukan, SDM Indonesia telah siap.

“Tanpa penyiapan SDM yang tangguh dan andal, maka pasar lapangan kerja akan dapat diisi dari SDM dari negara ASEAN lainnya,” tegasnya.
Perguruan tinggi, lanjut Mustafa, memiliki peran dalam penyiapan SDM dan itu membutuhkan waktu panjang antara 3-5 tahun. Saat ini yang diperlukan terlebih dulu program pelatihan dan kursus secara cepat dan tepat untuk mengisi SDM di sektor industri, jasa dan perdagangan dalam menghadapi MEA 2015.

Dia menambahkan, pemberlakukan perdagangan bebas se-ASEAN untuk sektor perbankan baru diberlakukan pada tahun 2020. Sehingga dunia perbankan Indonesia diharapkan menyiapkan SDM yang tangguh mulai saat ini.

Sementara itu Rektor Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Prof Dr H Sunarto mengatakan bahwa Moestopo secara nyata telah menunjukkan komitmennya untuk berperan serta dalam mewujudkan pengembangan SDM berbasis kompetensi baik di bidang ekonomi dan keuangan syariah.

“Universtitas Prof Dr Moestopo (Beragama) menyambut baik upaya IAEI dan OJK yang pada tanggal 14 Oktober nanti akan menyelenggarakan forum koordinasi pengembangan kurikulum ekonomi syariah dengan mengandeng para pengambil kebijakan dari Ditjen Dikti Kemendikbud dan Ditjen Diktis Kementerian Agama,” katanya Sejauh ini, kata Sunarto, Moestopo juga sudah melakukan kerja sama dengan dunia industri Perbankan Syariah, seperti Bank BNI Syariah, Bank Panin Syariah serta Bank Syariah lain. Demikian juga kerja sama seluruh alumni Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, yang nantinya juga akan menggunakan konsep Syariah.

Seminar ini merupakan entry point bagi pengembangan ekonomi syariah dengan dibukanya komisariat IAEI dan dilakukannya soft launching program Studi Keuangan perbangkan Syariah di Universitas Prof. Dr. Moestopo (beragama), pungkas Sunarto.[wid]

Dimuat di : RakyatMerdekaOnline
Hari/ Tanggal : Minggu, 12 Oktober 2014

Bank Syariah Belum Siap Hadapi MEA 2015

Sabtu, 11 Oktober 2014 | 17:40 WIB
Kewalahan Permintaan Masyarakat
Doc4
Oleh: Arief Bayuaji

inilahcom
INILAHCOM, Jakarta – Meningkatnya permintaan masyarakat terkait produk perbankan syariah, membuat kewalahan bank syariah. Dewan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia Mustafa Edwin Nasution mengatakan jika hal itu dibiarkan sama artinya bank syariah belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang.

“Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 232.516.771 jiwa, Malaysia 27.913.990 jiwa, Singapura 5.140.300 jiwa dan Brunei Darussalam 407.045 jiwa. Besarnya jumlah penduduk Indonesia ternyata mempengaruhi meningkatnya permintaan produk perbankan syariah, bahkan permintaan tersebut membuat kewalahan pihak bank syariah,” jelas Dewan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia Mustafa Edwin Nasution saat Seminar Nasional Ekonomi Syariah Indonesia Menghadapi MEA 2015 bertema ‘Penyiapan SDM Berbasis Kompetensi Syariah dalam Pengembangan Perbankan Syariah Era MEA 2015’ di Kampus FKG Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10/2014).

Mustafa menambahkan bahwa tu terjadi karena banyak orang mulai sadar sistem ekonomi syariah lebih baik dibandingkan yang sudah berjalan. Alasanntya, sistem ekonom Islami lebih adil dan tanpa spekulasi.

“Terkait kewalahan dari bank syariah, tak lain karena sumber daya manusia (SDM) bank syariah belum bagus secara kualitas. Tercatat, indeks tingkat kompetitif Global SDM Indonesia tahun 2010, peringkat 44, Singapura, peringkat 3 dan Malaysia, peringkat 26,” ujar dia.

Selain itu, papar dia, ada kesan SDM di bank syariah, yang asal jurusan kuliahnya, bukan dari Ekonomi Islam. “Sehingga, SDM yang ada tidak mampu melayani masyarakat dan nasabahnya dengan baik,” kata dia. [aji]

Dimuat di : INILAHCOM
Hari/ Tanggal : Sabtu, 11 Oktober 2014

Ekonomi Syariah Siap Hadapi Era MEA 2015

11 October 2014 in Business Info, Economy. Telah dibaca 15 kali

Doc3

Jakarta, Thebusinessnews.co – Industri perbankan Syariah di Indonesia membutuhkan kesiapan baik dari pelaku maupun regulator dalam menghdapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sebagai momentum liberalisasi pasar perdagangan ASEAN. Pastinya, ekonomi Indonesia akan cerah karena selain ditopang kekayaan alam yang berlimpah yang merupakan dasar ekonomi yang kuat, juga ketersediaan SDM yang mumpuni.

Terkait SDM berkualitas, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berkomitmen untuk berperan serta dalam mewujudkan pengembangan SDM berbasis kompetensi, baik di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Diharapkan terwujudnya suatu standarisasi kompetensi bagi pengembangan SDM ekonomi dan keuangan syariah yang kompetitif.

“Kami berupaya menghasilkan lulusan atau sumber daya berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Hal ini menjadi penting, mengingat tahun 2015 Indonesia akan menjadi salah satu aktor dalam Komunitas ASEAN,” ungkap Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Prof. Dr. H. Sunarto, M.SI, di sela Seminar Nasional Ekonomi Syariah Indonesia Menghadapi MEA 2015 bertema ‘Penyiapan SDM Berbasis Kompetensi Syariah dalam Pengembangan Perbankan Syariah Era MEA 2015′ di Kampus FKG Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Bintaro, Jakarta,(11/10)

Dikatakan, trend industri keuangan syariah dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik dilihat dari total asset, pembiayaan yang diberikan, dana pihak ketiga maupun rasio-rasio keuangan yang semakin membalik. “Dengan demikian tidak ada keraguan bagi kita untuk berperan aktif dalam pengembangan ekonomi syariah di Tanah air,” kata Sunarto.

Praktisi ekonomi syariah dari Bank Panin Syariah Deny Hendrawati menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar jelang MEA 2014, biak dari segi jumlah penduduk besar dengan dominasi penduduk usia muda. Kemudian penduduk usia kerja meningkat, pertumbuhan kelompok masyarakat menengah yang pesat dan pasar domestik yang kuat. “Ekonomi Indonesia akan cerah karena ditopang kekayaan alam yang berlimpah yang merupakan dasar ekonomi yang kuat,” jelas dia.

Sebelumnya, Dewan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia Mustafa Edwin Nasution mengungkapkan ekonomi syariah belum berkembang dengan baik. Pangsa pasar perbankan syariah belum mencapai lima persen. Namun masyarakat Indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 250 juta jiwa dan memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun sayangnya belum digarap optimal. Sehungga MEA belum belum tentu menjadikan masyarakat sejahtera. Secara teoritis memang bisa meningkatkan kesejahteraan karena pasar bertambah besar, pendapatan semakin bertambah dan kemiskinan berkurang

Indonesia, lanjut dia, memiliki penduduk besar tapi pendapatan per kapita masih jauh dibandingkan Malaysia dan Singapura. Pendapatan per kapita Indonesia hanya US$ 4.700. Sedangkan Malaysia US$ 13.000 dan Singapura US$ 51.000 per tahun.”Keadilan dalam mendukung rakyatnya berusaha harus ditegakkan. Setiap orang bisa melakukan usaha. Jangan ada hambatan dan infrastruktur dibenahi,” jelas dia. (red/ju)

Dimuat di : Thebusinessnews.com
Hari/ Tanggal : Sabtu/ 11 Oktober 2014
Hal : 1

Universitas Moestopo Buka Program Studi Ekonomi Perbankan Syariah

gedung-fkg-moestopoMinggu, 12 Oktober 2014

Bekasibusiness.com—Dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) maka lembaga pendidikan tinggi yang didirikan oleh (Alm) Mayor Jendral .TNI (Purn) Prof. Dr. Moestopo bersama (Alm) drg.JM. Joesoef Moestopo, akan membuka Program Studi Ekonomi dan Perbankan Syariah di Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama(UPDM-B) dan dibentuknya Pengurus Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) sekretariat UPDM (B).

“Upaya penambahan Program Studi Ekonomi dan Perbankan Syariah tersebut, dilakukan sesuai dengan cita-cita para Pendiri dalam mencetak kader penerus bangsa yang bercirikan agama, dengan ilmu ekonomi syariah maka diharapkan lulusan Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama bisa menjadi pemacu pelayanan berbasis agama,”tegas Rektor UPDM (B) Prof DR H Sunarto disela acara Seminar Nasional dengan tema ‘Penyiapan SDM Berbasis Kompetensi Syariah dalam Pengembangan Perbankan Syariah ERA MEA 2015’, belum lama ini di Jakarta.

Untuk mewujudkan itu, maka pihaknya akan melakukan kerjasama dengan dunia industri perbankan syariah, seperti Bank BNI Syariah, Bank Panin Syariah serta Bank Syariah lain

Selain itu Pakar Ilmu Syariah yang juga pendiri Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia, Mustafa Edwin Nasution, Ph.D, mengatakan dibukanya program tersebut sudah sangat tepat mengingat pada saat ini permintaan dunia industri terhadap tenaga ahli dibidang ekonomi dan perbankan cukup tinggi.

Mengingat banyak pengelola Bank Syariah banyak yang bukan dari jurusan Ekonomi Syariah, ini menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan tinggi untuk berkontribusi dalam penyediaan tenaga ahli dibidang Ekonomi Syariah.(dona)

Dimuat di : bekasibusiness.com

Pakar: MEA Belum Tentu Bikin Masyarakat Sejahtera

Sabtu, 11 Oktober 2014 | 15:32

Doc1
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) (sumber: Istimewa)

Jakarta – Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Mustafa Edwin Nasution mengatakan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 belum tentu menjadikan masyarakat sejahtera.

“Secara teoritis memang bisa meningkatkan kesejahteraan karena pasar bertambah besar, pendapatan semakin bertambah dan kemiskinan berkurang,” ujar Mustafa dalam seminar ekonomi syariah di Fakultas Kedokteran Gigi Prof Moestopo di Jakarta, Sabtu (11/10).

Tapi sayangnya, hal itu belum tentu terwujud tanpa adanya kerja keras dari masyarakat itu sendiri. “Semuanya harus bekerja keras pada MEA itu,” tambah dia.
Indonesia, lanjut dia, mempunyai pasar yang sangat besar karena jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa.

“Ditambah kekayaan alam kita yang melimpah, itu potensi yang harus dimanfaatkan. Tapi sangat disesalkan potensi-potensi itu belum tergarap secara optimal,” terangnya.

Indonesia memiliki penduduk besar tapi pendapatan per kapita masih jauh dibandingkan Malaysia dan Singapura.
“Pendapatan per kapita Indonesia hanya US$ 4.700. Sedangkan Malaysia US$ 13.000 dan Singapura US$ 51.000 per tahun.” Pemerintah dinilai perlu melakukan peningkatan sumber daya manusia.

“Keadilan dalam mendukung rakyatnya berusaha harus ditegakkan. Setiap orang bisa melakukan usaha. Jangan ada hambatan dan infrastruktur dibenahi,” jelas dia.

Indonesia memiliki jumlah penduduk Indonesia terbesar di dunia atau lebih dari 13 persen populasi dunia, namun ekonomi syariah belum berkembang dengan baik. Pangsa pasar perbankan syariah belum mencapai lima persen.

Penulis: /JAS
Sumber : Antara

viewporntube indobokep