10 November 2020 “Mengenang, Seuntai Kisah Perjuangan yang Tak Berakhir”

Pada Hari Pahlawan 2020 ini, saya teringat perbincangan dengan paman (Istamadji), 65 tahun yang silam, setelah kira-kira lima tahun keluar dari penjara Bubutan Surabaya. Paman, seorang anemer (pemborong bangunan perumahan). Saat bergerilya, masuk kota Surabaya untuk menyerang hoofd bureau (markas polisi belanda) di Jalan Sikatan, dia tertangkap. Kemudian dipenjara. Dikeluarkan dari penjara saat pengakuan Kedaulatan RI, 27 Desember 1949.

Kala itu saya, kira-kira berusia 10 tahun. Pada kemeriahan peringatan Hari Pahlawan di Surabaya. Melihat barisan veteran pejuang kemerdekaan. Saya bertanya kepada paman, mengapa tidak turut berbaris bersama para veteran. Dengan senyum paman menjawab. “Saya malu … karena dibandingkan teman-teman yang telah gugur … apa yang saya lakukan samasekali tidak ada artinya.” Banyak pejuang yang berpikiran sama seperti dia.

Begitu pula kira-kira, pak Moestopo. Mungkin, kenangan pengorbanan 16 ribu jiwa pemuda, teman seperjuangannya pada bulan Oktober-November 1945, syuhada teman-teman dekatnya yang berguguran pada agresi belanda 1947 dan 1948, penumpasan pki madiun 1948, penindakan angkatan perang ratu adil 1950, memadamkan pemberontakan rms dan darul islam kahar muzakar 1952, selalu membayangi pak Moes. Sehingga apa yang sudah disumbangkannya kepada negara dirasakan belum berarti apa-apa.

Drg. Moestopo, setelah menggantungkan senapan, di usianya yang menjelang senja, lalu menyumbangkan dedikasinya kepada negara dalam bidang kesehatan masyarakat dan pendidikan. Semua hartanya yang tidak seberapa, mobil dan rumah di Senayan dijadikan modal dasar untuk membangun sekolah dan klinik gigi sebagai kelanjutan amal bakti kepada bangsanya yang baru merdeka.

Pesan pak Moes (1985) sederhana. Bertaqwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teruskan perjuangan membangun Bangsa. Hormat kepada Guru. Hormat dan berterimakasih kepada Kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sempurnakan diri untuk adil, bertindak benar, bersih, tertib, jujur, bijaksana, dan berwibawa.

Semoga kita dapat mengamalkan pesan itu. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menerima amal baik pak Moestopo dan menempatkan Pahlawan Nasional ini di tempat yang penuh kemuliaan. Aamiin
(Maryono Basuki)

COMMENTS