Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama): “Idealisme Pancasila Memenuhi Seluruh Aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi”

“Idealisme Kebangsaan” adalah penuntun kehidupan suatu bangsa. Meliputi kehidupan politik dan sosial kenegaraan, masyarakat, sampai kepada individu. Sejarah mencatat pernyataan idealisme kebangsaan, “Magna Carta”, Inggris (1295), berisi janji Raja beserta keturunannya akan menghormati kemerdekaan, hak, dan kebebasan Gereja dan penduduk kerajaan. Lima abad kemudian, “Bill of Rights”, AS (1791), “kebebasan pribadi meraih kebahagiaan”. Dua setengah abad setelah itu, “Tiga Asas Kerakyatan” (“San-min Chu-i”), lahir di China, terdiri atas “min t’sen” (kebangsaan atau nasionalisme), “min tsu” (kerakyatan atau demokrasi), dan “min sheng” (kesejahteraan atau sosialisme), dirancang oleh Sun Yat-sen (1912). 

Pada penutup sidang pertama “Dokuritsu Junbi Cosakai”, “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (BPUPKI), 1 Juni 1945, Insinyur Soekarno mengemukakan usul dasar negara Republik Indonesia yang akan merdeka, “Pancasila” (Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia), yang disepakati oleh seluruh anggota yang hadir. Sebagai “Idealisme Bangsa Indonesia, “Pancasila”, tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan, 18 Agustus 1945 (sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan). Idealisme Kebangsaan ini diakui sebagai penyempurnaan Idealisme Kebangsaan yang sudah lahir sebelumnya.

Menjelang Sidang Umum PBB ke XV di New York, 30 September 1960, Soekarno (Presiden Republik Indonesia) dipilih sebagai juru bicara negara-negara Yugoslavia, Ghana, India, Persatuan Arab, Birma, dan beberapa negara lain. Dalam kesempatan ini, dalam pidato berjudul “To Build The World A New” (“Membangun Dunia Kembali”), Soekarno mengemukakan “Pancasila sebagai Kebenaran Universal”. “Pancasila” sebagai “Ubiquitous Factor”, faktor kebenaran yang mendasari nurani manusia (“Social Conscience of Man”). Sehingga layak menggantikan dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), berusaha memelihara dan menanamkan idealisme ini ke dalam dada serta benak para dosen dan mahasiswa. Melandasi pengetahuan yang dikaji dan diajarkan di tiap fakultas dengan idealisme Pancasila. Materi Kuliah Pancasila dicantumkan sebagai hidden curriculum maupun formal curriculum. Direalisasikan sebagai aktivitas kajian penelitian dan bakti sosial. Selalu berusaha memenuhi seluruh aktivitas “Tri Dharma Perguruan Tinggi” dengan setiap Sila Pancasila, sesuai gagasan pendiri universitas Mayor Jenderal TNI, Prof. Dr. Moestopo. Semoga gagasan ini memberikan arti bagi kehidupan bangsa, masyarakat, serta individu Bangsa Indonesia. Aamiin

-Maryono Basuki-

COMMENTS