“Spirit of Science” “Lea Jellinek dan Jacques Derrida”

Selasa, 140420

MoestopoGueBanget

Lea Jellinek (The Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, Australia) menulis “Seperti Roda Berputar: Perubahan Sosial Sebuah Kampung Di Jakarta”, Feb 1992 (“The Wheel of Fortune: The History of a Poor Community in Jakarta”).

Lea berkisah tentang sebuah fenomena kehidupan suatu kelompok masyarakat yang penuh dinamika perubahan. Lea mendeskripsikan secara “phenomenologyc” masyarakat melarat di kampung Kebon Kacang di pinggir Kali Cideng Kota Metropolitan Jakarta. Kisah yang disusun pada awal 1970 hingga penggusuran 1987. Salah satu tokoh utama dalam kisah itu, Sumira, hidup dalam usaha mandiri berkebun, berjualan, menjadi pembantu, berakhir dengan kesedihan yang mendalam, meninggal dunia.

Dalam tulisannya itu, Lea juga mendeskripsikan secara “ethnographyc” (analysis of the terrain, the climate, and the habitat) kondisi hubungan sosial ibu Sumira beserta 77 keluarga sekitarnya. Sebuah hubungan sosial yang dinamik. Tumbuh dalam perubahan naik turun dari harmoni sampai saling tidak percaya antartetangga bahkan antara suami-isteri.

“The Wheel of Fortune” oleh Lea Jellinek adalah laporan “qualitative research”, paduan kisah “phenomenologyc” dengan “ethnographyc” yang harmonic dalam alur pikir “constructive” yang “structuralist”.

Bagaimana seandainya Jacques Derrida (doctor honoris causa of Cambridge University) yang menulis “analyze of the misfortune life of kebon kacang ethnic”. Mungkin, Derrida akan menolak deskripsi ketidakadilan yang massive dari suatu kekuasaan sosial atas etnik kebon kacang. Dia akan “mendekonstruksi” bentuk yang impresif dan spektakuler masyarakat kebon kacang sebagai kehidupan penuh kepastian yang telah dipilih oleh etnik itu sendiri.

Mungkin “The Wheel of Fortune” akan dikisahkan sebagai “The Mystery of Life” dengan gaya bertutur “qualitative research”, “Phenomenology” dalam alur pikir “deconstructive”, “post-structuralist”, “post-modernism”.

(Maryono Basuki)

COMMENTS