“Spirit of Science and Virtue” “Letakkan Hati Rendah di Tanah”

Seri 5 Minggu, 160220

#MoestopoGueBanget

Setiap hari luang saya mencabut rumput liar di kebun. Sambil menikmati hijau  tanaman dan merenungi kehidupan. Rumput tumbuh terus meski dicabut seakar-akarnya. Sama dengan ilmu pengetahuan. Tumbuh dan berkembang, kejar-mengejar dengan perkembangan kondisi sosial, teknologi, dan alam. Kadang-kadang semuanya terjadi di luar prasangka.

Minggu lalu saya menguji skripsi mahasiswa S1. Sudah mengajar 35 tahun, bukan membuat bijaksana, malah hati ini semakin tinggi. Seperti biasa, baru baca naskah skripsi menjelang ujian berlangsung. Paling hanya survei dengan kesalahan klasik. Memilih teori yang mendasari hipotesis, konsep dalam pembentukan variabel, atau analisis deskriptif dan inferensial.

Atau metode fenomenologi, interaksi simbolik, dan case study dengan kesalahan klasik. Kelemahan dalam observasi, mensubyekkan peneliti dan obyek penelitian, plus melakukan derajat-derajat konstruksi. Atau critical-theory modernism (framing, semiotic) yang meleset relevansi historical structure dan virtual reality – nya.

Minggu lalu, saya tertunduk malu, tidak bisa memberi masukan yang berarti untuk dua skripsi mahasiswa S1 yang dibimbing oleh dosen muda yang serius, pak Hendry. Mereka menerapkan Metode Social Network Analysis (SNA). Menggambarkan pola hubungan antaraktor suatu kelompok sosial, partisipasi, dan aktor yang paling berpengaruh, dengan program UCINET.

Kerja keras dua mahasiswa ini harus diakui. Berani menggunakan metode SNA yang tidak pernah diajarkan. Men – download program UCINET, mempelajari program dari tutorial, menerapkan dalam penelitian. Semua dilakukan dalam waktu kira-kira tiga-empat bulan. Pada awal pertemuan matakuliah Metodologi Penelitian, akan saya minta mereka memberikan tuntunan penggunaan Program UCINET di kelas yang saya ampu.

“Berpikir harus melambung menjangkau langit yang tiada bertepi, sementara hati diletakkan rendah di tanah.”

(Maryono Basuki)

COMMENTS