Seri 3 Minggu, 090220 #MoestopoGueBanget “Spirit of Science and Virtue”

Mayjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Moestopo

Pak Moestopo:

“koyo tengu nduwe ati sak ungkal”

Bapak Saya lulusan AMS (Algemeene Middelbare School, pendidikan setingkat SMA zaman Hindia Belanda) setelah menyelesaikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) setingkat SD dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SMP. Kemudian bekerja sebagai jaksa. Tidak pernah mengenyam pendidikan hukum. Artinya HIS, MULO, dan AMS mampu menyiapkan anak didik untuk mengembangkan diri pada profesi yang akan diayahinya dimasa mendatang.

Paman saya lulusan Ambacht School van Soerabaia (Sekolah Pertukangan Surabaya) setelah tamat HIS dan MULO. Kemudian bekerja di kantor PU (Pekerjaan Umum) yang setelah berpengalaman kerja kira-kira 10 tahun mendapat pengakuan sebagai insinyur praktik. Artinya HIS, MULO, dan Ambacht School mampu menyiapkan tenaga kerja praktika yang dapat mengembangkan diri pada profesinya.

Jadi salah satu unsur utama pendidikan adalah kemampuan sekolah membangun hasrat anak didik untuk mengembangkan diri. Pengembangan diri merupakan perwujudan dari aktualisasi diri, mewujudkan kondisi diri yang terbaik sesuai potensi yang dimiliki. Untuk memicu rasa percaya diri, pak Moestopo menyampaikan ungkapan “koyo tengu nduwe ati sak ungkal” (bagaikan tungau yang mempunyai hati sebesar batu pengasah pisau).

(Maryono Basuki)

COMMENTS