Kampus Merah Putih: Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Rajab Ritonga “Triple Helix Sumber Daya Wartawan Indonesia”

Prof. Dr. Rajab Ritonga, M.Si. pada awal pidato pengukuhannya sebagai guru besar ilmu komunikasi, Selasa, 10 Desember 2019 di Wisma Antara, menyebutkan, konsep Triple Helix, sinergitas dan penyatuan tiga kalangan yang terdiri atas lembaga perguruan tinggi ilmu komunikasi (terkait kemampuan akademik), industri media termasuk wartawan (terkait keseimbangan upah dengan kualitas kerja), serta kementerian komunikasi dan informasi (terkait ketentuan perlindungan dan sanksi hukum), seyogyanya dibangun untuk mewujudkan kesegaran udara informasi pemberitaan nasional.

Data Kementerian Kominfo menyebutkan jumlah portal berita 43.000 (Kominfo.go.id, 2018), pers cetak 2.000 media (Tirto.id, 2018), dan wartawan kira-kira 100.000. Saat ini belum ada ketentuan standar pendidikan wartawan yang rigid. Dewan Pers menegaskan, menjadi wartawan merupakan hak azasi warganegara (Dewan Pers, 2018). Sebagian besar perusahaan pers menerima calon wartawan lulusan S1 berbagai bidang ilmu. Mereka melatih sendiri (in-house training) para calon wartawannya. Beberapa perusahaan media mengarahkan calon wartawan untuk langsung meliput berita dan belajar dari rekan seniornya.

Prof. Rajab Ritonga menyebutkan, kompetensi wartawan belum memenuhi standard. Satu-satunya tolok ukur kelayakan seorang wartawan melakukan pekerjaan jurnalistik adalah standard kompetensi yang ditetapkan Dewan Pers. Berdasarkan ketentuan tersebut, indikator kompetensi profesi wartawan adalah pemahaman terhadap etika dan hukum pers, pengetahuan teori dan prinsip jurnalistik, serta keterampilan mencari – memperoleh – memiliki – menyimpan – mengolah – menyampaikan informasi. Termasuk kemampuan melakukan riset investigasi, analisis situasi, serta keterampilan menggunakan peralatan teknologi informasi (Dewan Pers, 2018).

Persoalan lain profesi kewartawanan adalah kesejahteraan yang kurang sebanding dengan tuntutan profesionalitas. Dewan Pers mengatur upah wartawan, perusahaan pers wajib memberi upah kepada wartawan setidaknya sesuai upah minimum propinsi. Ironisnya, tidak semua perusahaan media menerapkan standard upah tersebut, karena ketentuan tersebut tidak memiliki kekuatan memaksa. Ada perusahaan media yang tidak memberikan upah kepada wartawannya. Mereka hanya memberikan komisi 50% pendapatan iklan yang diperoleh dari narasumber. Ada wartawan di Jakarta yang sudah bekerja 20 tahun, menerima penghasilan dua setengah juta rupiah dari komisi iklan yang diperoleh dari beberapa narasumbernya. Rajab Ritonga juga menyebutkan kasus upah lebih rendah wartawan daerah. Akibatnya, para wartawan melakukan pekerjaan sampingan yang bahkan merupakan tindak penyalahgunaan profesi yang memerlukan pembenahan segera.

Prof. Dr. Rajab Ritonga, M.Si. saat ini menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, dan Pengajar Pascasarjana. Profesor yang baru dikukuhkan ini juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi “Telaah Strategis Lemhannas” dan “Jurnal Komunikasi ISKI”. Selain itu menjabat juga sebagai Asessor Jurnal Terakreditasi Kemenristekdikti (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Rajab Ritonga lulus S3 Ilmu Komunikasi UI tahun 2007, lulus S2 Kajian Strategis dan Global UI 2001, dan S1 Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol Gadjah Mada 1985.

Fakultas Ilmu Komunikasi Prof. Dr. Moestopo saat ini memiliki empat guru besar, Prof. Dr. Soenarto, M.Si., Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn., Prof. Effendi Gazali, M.Si., MPS.ID., dan yang baru dikukuhkan Prof. Dr. Rajab Ritonga, M.Si. Fakultas Publisistik (Ilmu Komunikasi) Prof. Dr. Moestopo lahir pada 13 Desember 1964 dengan program peminatan Public Relations. Fikom Moestopo adalah adik kandung Fikom Unpad (lahir 18 September 1960), yang merupakan Fakultas Ilmu Komunikasi pertama di Indonesia. (MB-Humas)

COMMENTS