Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn.: “Univ. Moestopo sedang menyiapkan Generasi Society 5.0; Human-Centered Society dan Technology Based”

Orasi Ilmiah Prof. Effendi Gazali, M.Si., MPS.ID., Ph.D

Prof. Effendi Gazali, M.Si., MPS.ID., Ph.D. dalam acara pengukuhan sebagai guru besar menyampaikan orasi berjudul “Merajut Indonesia Menuju Konstelasi Algoritma Komunikasi Politik yang Lebih Mempersatukan”. Professor baru ini menyatakan kekhawatirannya terhadap penerapan “Sistem Pemilu Serentak yang memakai cara Presidential Threshold,” yang rawan dengan pembelahan bangsa yang berkelanjutan. Bisa dibaca sebagai pemilu presiden dua kubu. Sementara komunikasi mulai dikontrol oleh algoritma, bukan oleh manusia.

Berdasarkan Skep Menristekdikti Nomor 11881/M/KP/2019 Tanggal 4 April 2019 Effendi Gazali, Ph.D, M.Si, MPS ID dinaikkan jabatannya sebagai Profesor Bidang Ilmu Komunikasi. Effendi Gazali lulus sarjana Komunikasi dari Universitas Indonesia tahun 1990, kemudian mendapatkan gelar Master Komunikasi di UI juga pada tahun 1996, serta Master dalam bidang International Development  (konsentrasi: International Communication) dari Cornell Ithaca University, New York tahun 2000.

Gelar Ph.D. dalam bidang Komunikasi Politik  diperoleh dari Radboud Nijmegen University Belanda tahun 2004.

Tahun 2003 Effendi Gazali memperoleh penghargaan sebagai salah satu Peneliti Terbaik UI di bidang Social & Humanity berdasarkan publikasi di jurnal internasional,  serta penerima ICA (International Communication Association) Award, pada ICA Annual Conference, di New Orleans Mei 2004 untuk Research, Teaching & Publication (dari the ICA Instructional & Developmental Division). Effendi juga sering muncul di talk show “Indonesia Lawyer Club”  di TvOne.

Orasi Ilmiah Prof. Dr. Budiharjo, M.Si

Prof. Dr. Budiharjo, M.Si., Guru Besar bidang Perencanaan Pendidikan, menyampaikan orasi berjudul “Meraih Mutu Menggapai Masa Depan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0”. Dikemukakan, pemerintah berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program “Indonesia Pintar”. Masalah pendidikan yang dihadapi adalah “berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak peserta didik.” Presiden mengajak perguruan tinggi untuk tidak hidup dalam lamunannya sendiri. BPS mencatat rata-rata penduduk bersekolah selama delapan tahun (putus sekolah SMP).

Prof. Budiharjo menunjukkan target kompetensi pendidikan dengan prinsip keteladanan pendidik, kemampuan guru mengembangkan relasi interpersonal-kontekstual, integritas moral pendidik, motivasi keagamaan, dan pemahaman cinta tanah air dan bela negara. Dikemukakan pula pentingnya kemampuan menghadapi tantangan di era teknologi informasi dan revolusi industri 4.0.

Budiharjo yang lahir di Blitar dibesarkan di Bandung menyelesaikan pendidikan doktor di Univ. Negeri Jakarta tahun 2010. Sampai saat ini menjabat Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta merangkap Wakil Direktur Pascasarjana Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Menerima 13 Satya Lencana R.I. dan 13 Piagam Penghargaan dari beberapa Kementrian.

Acara pengukuhan dua guru besar Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019, dihadiri oleh

Dirjen Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., Ketua Komisi DPR RI, Dr. Zainudin Amali, SE, M.Si., Koordinator Staf Ahli Kapolri, Irjen Pol. Muktiono, M.H., Wakapolda DKI Jakarta, Brigjen Pol. Wahyu Hadiningrat, Sekretaris Utama Lemhannas, Komjen Pol. Dr. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., M.H., enam Deputi Kementerian BUMN, ketua dan anggota KPU, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, perwakilan 31 universitas, serta Prosesi Senat Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), terdiri atas 31 Professor, dengan Ketua Majelis Guru Besar Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si.

Sambutan Dirjen Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D

Kelakar Dirjen Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya pada acara Pengukuhan Dua Professor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Beda dosen Indonesia dengan dosen luar negeri. Selain gaji, adalah dosen luar fokus pada pekerjaan, sedang dosen Indonesia mengerjakan semua hal kecuali fungsinya sebagai dosen. Demikian langka karya tulis ilmiah dosen, hingga salah seorang ahli luar negeri membuat tulisan berjudul “Indonesia Misteri yg Belum Terungkap.” Dirjen Dikti berharap kedua professor dapat menutup kekurangan tersebut.

Pengukuhan Guru Besar Prof. Effendi Gazali, M.Si., MPS.ID., Ph.D dan Prof. Dr. Budiharjo, M.Si oleh Rektor Moestopo Prof. Dr, Rudy Harjanto di dampingi oleh Direktur Program Pascasarja Prof. Dr. Paiman Raharjo

Melengkapi orasi kedua professor yang baru dikukuhkan, Rektor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn. mengemukakan, Univ. Moestopo sedang menyiapkan Generasi Society 5.0. suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).  Konsep ini lahir sebagai pengembangan  dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. (MB-Humas)

COMMENTS