Prof. Dr. Roosje Rosita Oewen, drg.,Sp.KGA (K) membuka penyajiannya tentang “Penatalaksanaan Perawatan Gigi dan Mulut pada Pasien Anak Disabilitas” dengan menampilkan data kondisi kesehatan masyarakat yang memprihatinkan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Sakernas (Survey Ketenagakerjaan Nasional) tentang kondisi penyandang disabilitas di pasar tenaga kerja Indonesia mencatat estimasi  jumlah penyandang disabilitas nasional sebesar 12,15%. Tingkat pendidikan mereka  45,74% tidak lulus SD. Terdiri atas 53,37% perempuan dan 53,37% laki-laki. Prevalensi tinggi di Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Kendala yang dihadapi, kesehatan gigi dianggap kurang penting, korelasi dengan kesehatan umum belum disadari, frekuensi kunjungan ke dokter gigi kurang, akses pelayanan kesehatan sulit, tenaga profesional terampil minim, belum meluas ke dalam kurikulum ataupun pendidikan tambahan, dan minimnya informasi (dokter gigi/ortu).

Data penyajian Prof. Oewen tersebut disampaikan pada seminar “Penatalaksanaan Perawatan Gigi dan Mulut” yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Sabtu, 6 April 2019, di Kampus FKG Moestopo Bintaro, Jakarta. Seminar diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke 58 Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Hadir para dokter gigi anggota Ikatan Dokter Gigi Indonesia (IDGI), dosen Fakultas Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi Jakarta, dan profesional bidang kesehatan gigi. Ditampilkan enam pembicara utama, Ketua Indonesian Society of Special Care in Dentistry, Prof. Dr. Roosje Rosita Oewen, drg., Sp. KGA (K), Drg. Sarah Mersil, Sp. PM. Spesialis Penyakit Mulut, Drg. Albert Suryaprawira, MScD (UK), MOhRCS, Sp. Ort. Spesialist in Ortodontics, Drg. Fransiska Nuning Kusmawati, SP. Prost. Spesialis Prostodonsia, Pendiri dan penggagas de Medical Resindence, Drg. H. Rizal Rivandi Simatupang, SpBM, MM, MARS., dan Head of Conservative Dentistry Department, FKG UPDM(B), Dr. Rina Permatasari, drg, SP. KG.

Prof. Oewen menyarankan, salah satu pendekatan yang dapat digunakan secara umum oleh dokter gigi dalam menangani pasien disabilitas adalah komunikasi psikologis dengan cara penyampaian menggunakan kata-kata verbal yang dirangkai menjadi kalimat yang berarti dan mudah dimengerti, atau menggunakan bahasa nonverbal sikap tubuh, mimik wajah, simbol, atau bahasa isyarat. Pasien dengan disabilitas intelektual ringan dan kecemasan tingkat sedang dapat berkomunikasi, Tender Loving Care (TLC) dapat menjembatani kekurangan dan kecemasan. Penghargaan/hadiah adalah sangat penting bagi golongan ini. Penghargaan   diberikan  bila perilaku positif dan hukuman bila negatif. Beri apresiasi bila dapat melakukan dengan baik, dengan memeluk, menepuk bahu, jempol ataupun hadiah. Komunikasi verbal 7%, nada suara 33%, 60% non-verbal (mimik wajah dan sikap tubuh). Hindari hukuman. Begitu anjuran Profesor FKG Moestopo alumnus Program Doktor (Sandwich Programme) Vrije Universiteit Holland.

Seminar FKG Moestopo bertema “Penatalaksanaan Perawatan Gigi dan Mulut pada Pasien Anak Disabilitas”diselenggarakan dalam rangkaian acara merayakan Dies Natalis Universitas ke-58. Selain seminar, dilaksanakan ziarah ke makam pendiri universitas, Mayor Jenderal TNI Prof. Dr. Moestopo, pengabdian kepada masyarakat bersama institusi pendidikan lain berupa pengobatan dan penyuluhan kesehatan gigi terhadap anak-anak sekolah dasar di Kalimantan, bimbingan pengembangan ekonomi, seminar akademik, jalan sehat dan lain-lain. Pada puncak perayaan akan diwisuda sekitar 1,000 sarjana dan magister.

“Tender Loving Care” dapat menjembatani kekurangan dan kecemasan pasien penyandang disabilitas, demikian anjuran Prof. Dr. Roosje Rosita Oewen dalam seminar “Penatalaksanaan Perawatan Gigi dan Mulut pada Pasien Anak Disabilitas” yang dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Moestopo di Kampus Bintaro, Sabtu, 6 April 2019. Seminar diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke 58 UPDM (B). (Humas UPDM (B))

Leave a Comment