Fakultas Teknik Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang memiliki dua program studi, Teknik Pertambangan dan Teknik Industri, menyelenggarakan simposium dengan tema “Masa Depan Pertambangan Indonesia: Tantangan dan Rekomendasi”. Lima praktisi dan empat akademisi pertambangan nasional menyampaikan pengalaman dan mengemukakan pandangan mereka dalam simposium ini. Simposium berlangsung di Hotel Best Western Senayan, Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.

 

Tujuan dari simposium ini adalah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang pertambangan di Indonesia pada khususnya dan di dunia pada umumnya, utamanya dari para pakar, praktisi, akademisi, dunia industri, dan pemerintah. Sehinga hasilnya akan menjadi acuan bagi pengembangan kurikulum teknik pertambangan, baik bagi Program Studi Teknik Pertambangan yang sudah berjalan dengan kualifikasi unggul, maupun bagi Program Studi yang masih baru berjalan dan mencari bentuk dan karakter yang sesuai.

 

Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) bersama Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Bandung, Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, serta Asosiasi-Asosiasi di bidang pertambangan (PERHAPI, APBI, IMA, PII, dan Forum Komunikasi Program Studi Teknik Pertambangan Indonesia) membuka Fakultas Teknik melengkapi empat fakultas yang sudah ada (Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ekonomi dan Bisnis), untuk bersama Fakultas Teknik Perguruan Tinggi yang sudah ada, menyiapkan sarjana profesi teknik yang berkwalitas dan berkarakter Merah Putih. Usaha Univ. Moestopo ini merupakan jawaban atas peluang dinamik Era Digital (Revolusi Industri 4.0) sekaligus Era Society 5.0.

 

Pada pembuka simposium, Rektor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn. mengemukakan, beberapa hal yang dipaparkan dalam simposium terkait Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Pertambangan, Masa Depan Pertambangan Indonesia Secara Makro, Sistem Akreditasi Kurikulum secara Nasional maupun Internasional, Percepatan Pengembangan Program Studi Pertambangan, Sertifikasi Kompetensi di Bidang Pertambangan, Sosialisasi Peraturan perundang-undangan terkait industri Pertambangan, dan Dunia Usaha/Industri Pertambangan.

 

Pembicara kunci, Dirjen Minerba – ESDM RI, Ir. Bambang Gatot Ariyono, MM., diwakili Sekretaris Direktorat Jenderal Minerba – ESDM, Heri Nurzaman menjelaskan kondisi kekayaan tambang nasional. Proyeksi produksi batubara dengan asumsi menurun setiap 10 tahun ( e.g. 1 – 7 %), dengan perkiraan tidak ada penambahan cadangan, maka diperkirakan batubara akan habis 67 tahun atau 74 tahun. Proyeksi produksi mineral logam tertentu emas primer, nikel, timah, tembaga, dan perak dengan asumsi kenaikan seiap 10 tahun sebesar 5%, tanpa ada penambahan cadangan, maka diperkirakan mineral logam tertentu akan habis 14 tahun (Timah), 27 tahun (Emas Primer), Nikel (47 tahun), Perak (47 tahun), dan yang paling lama adalah Tembaga selama 96 tahun.

Sekjen Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Ir. Resvani, M.B.A. mengemukakan posisi PERHAPI sebagai mitra strategis pemangku kepentingan, pusat rujukan (center of references), pengembangan sumberdaya manusia untuk memajukan pertambangan Indonesia secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.

 

Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia/Indonesia Mining Association (IMA), Ir. Ido Hutabarat menjelaskan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) memberikan kepastian, lulusan perguruan tinggi teknik memiliki pengalaman sesuai standar global pendidikan teknik, sehingga meningkatkan peluang kerja perusahaan multinasional, diterima pada profesi teknik, memenuhi syarat mendapatkan pinjaman, bantuan dan beasiswa. ABET juga menaungi lulusan bekerja secara global.

 

Ketua V Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Hendri Tamrin menyajikan gambaran produk batubara nasional. Dijelaskan, data jumlah Estimasi Produksi Anggota APBI-ICMA Tahun 2017 sebesar 306.78 Juta Ton, terdiri atas Jumlah Estimasi Produksi PKP2B Tahun 2017 sebesar 267.49 Juta Ton dan Jumlah Estimasi Produksi IUP Tahun 2017 sebesar 39.29 Juta Ton.

 

Tamrin menambahkan, APBI merupakan organisasi Non-Profit yang bertindak sebagai mitra bagi lembaga pemerintahan terkait dan memberikan pandangan industri tentang cara mendorong lingkungan yang menguntungkan untuk investasi dan persaingan. APBI-ICMA bekerja secara kolaboratif dengan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan investasi dengan mendorong kesehatan ekonomi industri pertambangan batubara untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada pemerintah, investor, masyarakat, karyawan, pelanggan dan lingkungan.

 

Kepala Program Studi Teknik Pertambangan ITB, Dr. Eng. Ganda Marihot Simangunsong memastikan, mahasiswa lulusan teknik pertambangan memiliki pengalaman pendidikan mahasiswa sesuai dengan standar global pendidikan teknik ABET. Perusahaan multinasional mensyaratkan lulusan dari program yang terakreditasi ABET. Sistem akreditasi nasional dibuat berdasarkan model ABET.

 

Ketua Program Studi Magister Teknik Pertambangan FTM UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr. Ir. Barlian Dwinagara, M.T., menyampaikan, Sistem Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi merupakan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) Pendidikan Tinggi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari satu kesatuan sistem pendidikan tinggi di Indonesia Akreditasi sebagai SPME, tidak lagi dipandang sebagai kewajiban demi akuntabilitas perguruan tinggi. Tetapi sebagai kebutuhan untuk memotret kinerja dan mutu perguruan tinggi secara reguler Pengembangan sistem akreditasi nasional pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari pelaksanaan misi tersedianya layanan pendidikan tinggi yang bermutu.

 

Dekan Fakultas Teknologi Industri/Kaprodi Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia Makasar (UMI), Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., AK3U menjelaskan hal yang sudah dilakukan di Indonesia Timur. Kerjasama praktek kampus lapangan dan laboratorium (UNIPA Papua, UNCEN Papua, USN Kolaka, SMK 1 Sorong, 5 SMK di Sulawesi Selatan), Hybid Teaching dengan ITB, Kuliah Daring dengan ITB dan Universitas Jambi.

 

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tonny Clayton Allen Wenas, S.H. mengemukakan, Freeport mulai pada dekade bawah tanah yang sebagian besar dioperasikan dengan remote control. Karyawan Freeport terdiri atas berbagai bidang kwalifikasi. Karyawan Indonesia sebanyak 90%, memuaskan pengusaha. Pengetahuan pertambangan mereka sangat baik dibandingkan pekerja bangsa lain. Sangat ironi jika ada orang yang sinis terhadap aktivitas pertambangan. Bahan tambang melingkupi kehidupan manusia, dari peralatan mandi, peralatan makan, peralatan rekreasi, peralatan transport, sampai dengan peralatan kerja (komputer dll.).

 

Ketua Umum Badan Kejuruan Teknik Pertambangan – Persatuan Insinyur Indonesia (BKT Pertambangan PII), Dr. Ir. H.A. Latief Baky, S.H., M.Hum. M.Sc., FIQ, IPM. dalam simposium mengemukakan regristasi profesi keinsinyuran adalah wajib. Jenjang profesi teknik dimulai dari Sarjana Teknik, keahlian insinyur, uji kompetensi profesi, dan sertifikasi insinyur. Syarat kelayakan profesionalitas keinsinyuran termasuk record kepercayaan masyarakat terhadap seorang insinyur praktek. UURI no. 11 Tahun 2014 Bab IV Standar Keinsinyuran Pasal 6 Ayat (1) menyebutkan, untuk menjamin mutu kompetensi dan profesionalitas layanan profesi Insinyur, dikembangkan standar profesi keinsinyuran yang terdiri atas standar layanan Insinyur, standar kompetensi Insinyur, dan standar Program Profesi Insinyur. (MB & Isy – Humas)

Leave a Comment