Prof. Rudy (kanan) dan Prof. Lasiyo (kiri) menyajikan isi buku “Tao Te Ching Lao Tse” Rabu, 13 Februari 2019 di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.

 

“Tao Te Ching” dapat diartikan sebagai “Jalan Kebajikan”, diperkenalkan pada tahun 450 Sebelum Masehi oleh pujangga Lao Tzu. Tao antara lain mengajarkan pemahaman bahwa “Hidup dan mati, lahir dan berkembang bersama”. Kemudian dijelaskan, “Cara terbaik untuk hidup adalah menjadi air, kearifan alam.”

Dalam penjelasannya tentang bijaksana disebutkan, “orang bijak menenangkan pikiran dan membuka hati, dituntun oleh batin dan bukan pandangan orang lain.”

“Menjalani hidup dengan menempatkan diri pada kehormatan dan bertindak tanpa pamrih.” “Martabat adalah limpahan harta dalam batin.” Demikian antara lain ungkapan isi buku karya dua Guru Besar dari Univ. Moestopo dan Univ. Gajah Mada.

Acara Bedah Buku Karya Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn., Rektor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta dan Prof. Dr. Lasiyo, M.A., Ketua Departemen Filsafat Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta dengan Judul “Filsafat Kehidupan dalam Perspektif Tao Te Ching Lao Tsu”, menandai diluncurkannya sebuah khasanah literatur Filsafat Timur yang saat ini masih langka. Pembedah Prof. Dr. M. Mukhtasar S., M.Hum., Ph.D. of Arts. Guru Besar Post Graduate Filsafat UGM, spesialis Filsafat Timur. Moderator Drs. Budisutrisna, M.Hum. dari Fakultas Filsafat UGM. Acara bedah buku berlangsung di gedung Notonagoro Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, (Rabu, 13 Februari 2019). Hadir dalam acara tersebut para alumni, pengajar, dan pejabat struktural kedua universitas.

Dekan Fakultas Filsafat Dr. Arqom Kuswanjono, pada pembukaan acara bedah buku mengemukakan, nilai-nilai agama seperti cinta, kerendahan hati, kesederhanaan ada pada Tao. Prof. Lasiyo, saat menjelaskan isi buku menjelaskan, jalan kehidupan berawal dari Tao menuju Tao, mencapai kulminasi Tao, dan berakhir pada Tao. Taoism menunjukkan jalan yang harus ditempuh mahluk mengikuti hukum alam, yaitu keserasian, keharmonisan hidup dengan lingkungannya. Pembedah, Prof. Dr. M. Mukhtasar berpendapat, Taoism sebagai Kosmosentrisme justru berkembang di kalangan masyarakat Korea. Tidak ada bangsa yang menerapkan ajaran Tao dalam kehidupan masyarakatnya. Orang Korea menghayati Taoism dalam kehidupan sehari-hari.

Prof. Rudy Harjanto mengemukakan bahwa filsafat merupakan renungan tentang kebenaran. Membentuk karakter manusiawi penuh keharmonisan, sehingga relevant diterapkan pada “Era Society 5.0” seperti dikemukakan oleh Shinzō Abe. Era Revolusi Industri 4.0 dengan ciri-ciri berkembangnya Internet, teknologi  baru dalam ilmu data, artificial intelligence, robotics, cloud, dan teknologi nano, mesti diawaki oleh manusia dalam masyarakat yang santun penuh keseimbangan. Manusia senantiasa berubah, berkembang menyesuaikan diri kepada perubahan kehidupan. Tidak ada sesuatu yang tetap.

Saat ini, beberapa orang berbicara sewenang-wenang, dan pernyataannya itu, berkat teknologi, beredar cepat memenuhi atmosfir kehidupan. Dengan mudah memicu gejolak ketegangan. Budi pekerti kebaikan sudah semestinya dihidupkan, ditanamkan sejak usia dini, sehingga karakter keseimbangan diri mengemuka dalam individu dan kelompok masyarakat. Demikian keharmonisan kehidupan masyarakat terbangun dari keluarga, kelompok, mengimbas kepada masyarakat bangsa mencapai masyarakat dunia, yang telah terangkai dengan jaringan komunikasi digital. (MB-Humas)

 

 

Leave a Comment