Anak didik kita sekarang adalah kaum milenial. Mereka sangat berbeda dari kita yang kaum Gen-X dan Gen Y. Kaum Milenial bergeser perilaku dan preferensinya. Mereka banyak mengonsumsi experience-leisure. Kalau kita merasa wajib membaca buku-buku tebal, mereka lebih banyak melakukan googling. Kalau kita terhibur ketika membaca novel yang berjilid-jilid, mereka lebih tertarik menjelajah deskripsi pendek (story telling).

Milenial menuntut fleksibilitas. Menyelenggarakan aktivitas di manapun dan kapanpun. Mereka menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, “flexi job”. Tren ke arah bekerja dalam status “freelancer”, “digital nomad”, “gig economy”. Kaum milenial yang berciri dinamik itu pasti kurang suka duduk diam memperhatikan dosennya mengoceh filsafat. Sementara kita tetap ngotot berpegang pada pendapat, “science bersumber pada filosofi dan bermuara pada seninya”. Kita merasa, mahasiswa wajib memahami kompetensi A sampai Z.

Kepada mahasiswa ilmu sosial, kita pun mengoceh pandangan aufklarung dan positivism yang memberontak terhadap kemapanan raja, bangsawan, dan pemuka agama. Kemudian muncul kritik terhadap positivism yang dianggap melahirkan kesadaran “exploitation de l’homme par l’homme” dan berujung kepada perang dunia. Berlanjut kepada filosofi post-positivism atau interpretive, berlanjut lagi kepada constructivism, sementara critical theory berkembang menjadi modernism dan post-modernism. Semua pencetusnya filusuf Barat yang sekuler.

Anak-anak ilmu sosial mesti tahu dan memahami perkembangan pemikiran filsafat ini. Ditambah lagi anak-anak kita adalah bangsa Timur yang agamais. Bukankah “science bersumber pada filosofi dan bermuara pada seninya”. Masalahnya, bagaimana cara menyampaikannya? Bagaimana cara menyampaikan filsafat Barat dengan konstruksi Timur? Meta-meta kognisi. Kepada generasi yang menuntut fleksibilitas, leisure, dan nomad. Dari pengalaman saya, hanya kira-kira 5 dari 40 mahasiswa dalam kelas yang berusaha memahami materi kuliah itu.

Sementara kompetensi tiap matakuliah itu sendiri berada pada keraguan, manfaatnya bagi profesi. Bukankah Google dan Ernst & Young memasang iklan akan menggaji siapa pun yang bisa bekerja dengannya tanpa harus memiliki ijazah apapun. Bukankah lonceng kematian PT seakan telah didentangkan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut (artikel Terry Eagleton, berjudul ”The Slow Death of the University”, 2015). Bukankah kedua perusahaan itu menyatakan, kompetensi matakuliah perguruan tinggi salah arah.

Guru berkewajiban melaksankan sebagian kecil fungsi orangtua dibidang ilmu pengetahuan. Jadi teringat nasihat Khalil Gibran (1883 – 1931). “… curahkan kasih sayang, tetapi bukan memaksakan pikiranmu … mereka dikaruniai pikirannya sendiri … jiwanya milik masa mendatang … yang tak bisa kau datangi … bahkan dalam mimpi …” Sajaknya yang lain menyebutkan “… ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya … ketika dia tidak mempedulikanmu … ketika dia mulai mencintai yang lain dan kamu tersenyum sambil berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’ …”

Cintailah muridmu, sebagai pelengkap kasih-sayang orangtuanya. Ajarkan alur berpikir dan pedoman praktikanya. Petik alur pikir mereka walaupun kurang engkau pahami. Biarkan mereka memetik sebagian logikamu, sekaligus membuang sebagian besar pendirianmu. Agama, bagi bangsa Timur adalah filosofi yang mutlak. Sebagai sumber sekaligus muara logika filosofis. Logika dasar agama adalah fungsi penciptaan manusia sebagai “penebar rahmat”.

Ada yang mengatakan “Millennials Kill Everything”. Pasti bukan begitu. Mereka adalah anak panah yang melesat sangat cepat. Yang bergerak dari awalan busur yang sangat kuat. Busur yang sangat mencintai mereka karena merekalah penebar rahmat kehidupan, melanjutkan tebaran rahmat yang telah lebih dahulu kita lakukan. (MB-Humas)

Leave a Comment