Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti, Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng. Sc.

Pada pembuka sambutannya dalam acara Seminar Nasional Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BP PTSI), Rabu (21 November 2018), di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, yang dihadiri lebih dari 250 pengelola Yayasan PTS seluruh Indonesia, Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti, Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng. Sc. Mengemukakan data bahwa jumlah PTN 1.300 kampus dengan jumlah mahasiswa 2.211.668 orang, dan jumlah dosen 73.607 orang, sedang jumlah PTS 3.128 kampus dengan jumlah mahasiswa sebanyak 4.712.843 orang, dan jumlah dosen 173.662 orang. Dalam kondisi yang demikian sudah wajar jika Pemerintah benar-benar memberikan perhatian khusus kepada Perguruan Tinggi Swasta.

Dalam kesempatan itu, Patdono Suwignjo mengingatkan agar jangan sampai terjadi konflik internal di dalam tubuh Pengelola PTS. Beberapa kasus konflik telah terjadi, antara lain konflik Yayasan dengan Rektor, masalah pengelolaan keuangan, masalah statuta, dan masalah tatakelola Yayasan. Selanjutnya Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti menyampaikan trik unntuk menghindari konflik. Disarankan agar Tatakelola Yayasan didokumentasikan dengan baik, asset PTS diserahkan kepada Yayasan, Jabatan Pembina – Pengurus – Pengawas Yayasan harus dipilih benar-benar mereka yang penuh dedikasi karena tidak digaji, Statuta dibuat dengan benar dengan konsultan dari Dikti, pengelolaan keuangan harus transparan, dan yang terakhir, jika seandainya konflik masih terjadi maka usahakan jangan melibatkan pihak luar.

Sambutan Ketua Umum Asosiasi BP PTSI, Prof. Dr. Thomas Suyatno

Ketua Umum Asosiasi BP PTSI, Prof. Dr. Thomas Suyatno, mengemukakan bahwa secara eksplisit, pemilik Yayasan Pengelola PTS memang tidak tertera dalam UU, namun dari beberapa ketentuan dalam Pasal 1 Butir 1, Pasal 9 Ayat (1), dan Pasal-Pasal 62, 64, 65, 66, 67, dan 68 secara implisit dapat disimpulkan bahwa yayasan bukan milik Pendiri atau Pembina, melainkan milik masyarakat. Dalam hal penanganan konflik di PTS, Prof. Dr. Thomas Suyatno mengemukakan bahwa setiap pihak perlu memahami anatomi konflik. Konflik tidak selalu berkonotasi negatif, misalnya conflict of manangement. Untuk itu, perlu pengembangan norma konstruktif untuk pencegahan/antisipasi terjadinya konflik. Kolaborasi dan win-win solution harus menjadi dasar solusi konflik. Dalam penanganan konflik, pendekatan informal (antara lain melalui mediasi dan arbitrase) perlu dikedepankan (sebelum ligitasi).

Rektor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn. yang hadir dalam seminar akbar tersebut mengemukakan, antisipasi atas konflik yang bisa terjadi di lingkungan kampusnya diantisipasi terutama dengan ketulusan pengelola Yayasan dan Universitas. Menyikapi situasi dengan kerendahan hati, penyesuaian diri secara terus-menerus, bertindak dengan kewajaran, dengan niat memberikan manfaat bagi lingkungan, bangsa, negara, nusa-bangsa, umat manusia.

Suasana Seminar Nasional Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BP PTSI), Rabu (21 November 2018), di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, yang dihadiri lebih dari 250 pengelola Yayasan PTS seluruh Indonesia. (MB-ISY HUMAS)

 

Leave a Comment