Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc.: “Strategi Indonesia Menghadapi Turbulensi Ekonomi Global”

Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc.

Rektor Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn. saat membuka Seminar Nasional “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” di Kampus Moestopo – Bintaro, Sabtu, 20 Oktober 2018.

 

Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. saat memberikan ceramah dalam Seminar Nasional “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” kepada sekitar 300 mahasiswa pascasarjana di Kampus Moestopo – Bintaro, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. saat memberikan ceramah dalam Seminar Nasional “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” di hadapan pejabat struktural universitas dan sekitar 300 mahasiswa pascasarjana di Kampus Moestopo – Bintaro, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Berawal dari kebijakan politik “kacamata kuda” Trump, dengan semboyan “America First” dalam mengobarkan perang dagang dengan Cina. Kejadiannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 10 persen untuk impor barang dari Cina senilai US$ 200 miliar. Pernyataan Trump pada 18 Juni 2018, ini meningkatkan ketegangan perang dagang berskala besar dengan Beijing. Trump mengatakan ini merupakan balasan atas keputusan Cina, yang mengenakan kenaikan tarif impor senilai US$ 50 miliar. Sebelumnya, pemerintah Cina mengatakan ikut menaikkan tarif impor barang dari Amerika sebagai balasan atas keputusan Trump menaikkan tarif impor dari Cina dengan nilai US$ 50 miliar. Perang dagang US – Cina, negara raksasa ekonomi dunia tersebut, memicu turbulensi ekonomi global.

Demikian penjelasan Ketua Wantimpres, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc. mengawali ceramahnya berjudul “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” dalam seminar nasional yang diselenggarakan Program Pascasarjana Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) (Sabtu, 20 Oktober 2018) di Kampus II Moestopo, Bintaro. Sri Adiningsih selanjutnya menjelaskan, bahwa ekonomi Indonesia harus memiliki ketangguhan untuk menghadapi turbulensi tersebut. Stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia harus terjaga dengan baik. Sampai saat ini Indonesia berhasil mengembangkan perekonomian sehingga pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan semakin berkurang.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sejak 19 Januari 2015 melanjutkan uraiannya. Indonesia memiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang bertugas menyelenggarakan pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan untuk melaksanakan kepentingan dan ketahanan negara di bidang ekonomi. KSSK bertugas mengkoordinasi pemantauan stabilitas keuangan, menangani krisis sitem keuangan, dan menangani permasalahan bank sistemik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun krisis. Anggota KSSK adalah Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Usaha menstabilkan ekonomi dilakukan dari dalam dan luar negeri secara simultan. Dari dalam negeri dilakukan pembangunan infrastruktur yang berbasis memajukan perekonomian rakyat luas, kebutuhan sembako tercukupi, menekan inflasi, fiskal sehat, hutang luar negeri terjaga, dan hutang pemerintah prudent. Dari luar stabilitas ekonomi dilakukan melalui partnership antara lain dengan negara-negara Cina, Singapura, dan Jepang. Kontribusi keuangan Indonesia di Ching Mai Initiative Multilateralized (CMIM) sebesar 9104 Miliar USD. Kerjasama Bank Indonesia dan Otoritas Moneter Singapura dalam bentuk repo dan local currency swap senilai 10 Miliar USD. Kesepakatan Bank Indonesia dengan Bank Sentral Jepang dalam bentuk amandemen perjanjian kerjasama Bilateral Swap Agreement (BSA) dengan nilai fasilitas swap sebesar 22,76 Miliar USD.

Hasil usaha menstabilkan kondisi ekonomi dan sosial nasional antara lain, pertama, Pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada posisi 5-10% di atas Turki, Thailand, Malaysia, Singapura, dan di bawah India, Vietnam, Cina, Filipina. Kedua, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tumbuh dari 585 USD (1990) ke 3847 USD (2017) di atas Filipina. Ketiga, Gross Domestic Product per Capita on Purchasing Power Parity dari di atas 1 (1990) hingga mencapai 15000 (2018) di bawah Cina. Keempat, Pengangguran dari 11,24 Juta (2005) menurun hingga 5,13 Juta (Febuari 2018). Kelima, Kemiskinan dari 40 Juta (1970) menurun menjadi 9,82 Juta (Maret 2018). Sumber CEIC dan BPS 2018).

Prof. Sri Adiningsih menutup ceramahnya dengan penjelasan bahwa lebih penting dari pada keberhasilan menghadapi turbulensi ekonomi global, adalah menghentikan sumber turbulensi itu sendiri. Presiden RI Jokowi mengemukakan hal itu dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Jokowi mengatakan hubungan antarnegara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti “Game of Thrones”. Pidato tersebut dengan sangat keras menyindir negara-negara adikuasa tetapi disampaikan dengan gaya yang enak didengar.Disebutkan, dalam serial Game of Thrones, sejumlah Great Houses, Great Families bertarung hebat antara satu sama lain, untuk mengambil alih kendali ‘The Iron Throne’. Siapapun yang menang, perang adalah petaka yang selalu menimbulkan banyak korban, kesengsaraan, dan kesedihan. Mudah-mudahan pidato Presiden itu dapat menyentuh hati para pemimpin dunia.

Hadir dalam seminar beberapa pejabat structural Univ. Moestopo. Rektor, Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn., Pembina Yayasan, Prof. Dr. Thomas Suyatno, M.M., Staf Ahli Pembina Yayasan, Prof. Dr. Sunarto, M.Si., Prof. Dr. Paiman Raharjo, M.Si., Kepala Pusat Penjaminan Mutu, Prof. Dr. Himsar Silaban, M.M., Warek III, Dr. Bambang Winarso, M.Sc., Dekan FKG, Prof Dr. drg. Budiharto, SKM., Guru Besar Pascasarjana, Prof. Dr. Abdullah, M.M. Saat membuka seminar, Rektor Univ. Moestopo berharap agar mahasiswa menyimak ceramah dari sosok pejabat negara sekaligus guru besar perguruan tinggi terkemuka yang akan menyampaikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi nasional dalam badai turbulensi global. Sehingga penjelasan itu dapat memberikan pencerahan sekaligus membawa manfaat ilmiah. (MB-ISY Humas)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *